book

(Book Review) The Kite Runner by Khaled Hosseini

The Kite Runner merupakan buku ketiga yang aku baca di bulan ini, setelah menyelesaikan Reasons to Stay Alive dan The Good Son. Sama seperti pengalamanku saat membaca The Song of Achilles, aku juga udah sering denger review orang-orang tentang The Kite Runner yang bilang kalau bukunya bakalan sedih banget.

Karena udah penasaran, akhirnya aku memberanikan diri buat baca bukunya dan menyiapkan tisu, kalau-kalau diperlukan. Di awal bukunya kita akan disuguhkan dengan cerita manis mengenai persahabatan Amir dan Hassan, kedua bocah laki-laki yang tinggal di Kabul, Afghanistan.

Namun hubungan persahabatan ini nggak selalu membahagiakan, karena Amir seringkali merasa iri dan cemburu akan perlakuan serta perhatian ayahnya terhadap Hassan, yang hanyalah seorang anak dari pelayannya. Meskipun Amir telah berusaha keras untuk mendapatkan perhatian ayahnya, namun sepertinya itu nggak pernah cukup untuk membuat ayahnya bangga kepadanya.

Bahkan ada kutipan percakapan ketika ayahnya sedang berbicara dengan temannya yang nggak sengaja terdengar oleh Amir. Ayahnya berkata, ”Kalau saja aku tidak melihat dengan mataku sendiri saat dokter mengeluarkannya dari tubuh istriku, aku tak akan percaya bahwa dia adalah putraku.”

Uuh, bayangin betapa sakitnya kalau denger orang tua kita ngomong kayak gitu tentang kita. :’))

Kesedihan itu masih terus berlanjut hingga suatu hari terjadi sebuah “accident’ yang meregangkan persahabatan di antara Amir dan Hassan, dan nantinya menjadi trauma yang akan menghantui Amir di sepanjang hidupnya.

Nggak berhenti sampai di situ, suasana semakin runyam saat Afghanistan mengalami konflik yang ditandai dengan kejatuhan sistem monarki dan intervensi Uni Soviet. Kabul yang tenang dan asri seketika berubah menjadi tempat yang mengerikan dengan bunyi bom dan suara tembakan terdengar di seluruh sudut kota. Banyak bangunan yang hancur dan korban jiwa yang meninggal semakin tak terkendali.

Situasi tersebut membuat Amir dan ayahnya terpaksa meninggalkan Kabul dan pergi ke Amerika Serikat untuk menyelamatkan diri.

Setelah menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya di Amerika dan menyelesaikan pendidikannya di sana, Amir hidup dengan damai dan bahagia bersama dengan istrinya, Soraya dan mulai menitih karirnya sebagai penulis novel.

Namun pada suatu hari, Amir mendapatkan sebuah surat dari Rahim Khan, rekan kerja dan teman baik ayahnya, untuk menemuinya di Pakistan. Laki-laki itu menjanjikan Amir bahwa ia dapat menebus dosa yang telah dilakukannya semasa kecil dan juga memberi tahunya mengenai sebuah rahasia yang selama ini ditutupi oleh ayahnya.

Amir kemudian dihadapkan pada pilihan sulit untuk melanjutkan kehidupannya yang damai dan tentram di Amerika atau kembali ke Kabul dan melawan trauma yang selama ini selalu menghantuinya.

Selama baca buku ini, bener-bener emosi tuh rasanya diaduk-aduk antara terharu sama persahatabatan dan kesetiaan, tetapi juga dibuat nyesek sama kenyataan pahit dan penghianatan.

Nggak banyak yang pengen aku omongin tentang buku ini, but I would say I love this book and I love the way it hurts me and makes me cry just by remembering about this book.

“Peristiwa itu telah lama berlalu, tapi pengalamanku selama ini menunjukkan bahwa kita tak akan pernah bisa mengubur masa lalu. Karena bagaimana pun, masa lalu akan menyeruak mencari jalan keluar.”

“…alasan terbesar mengapa aku tidak memedulikan masa lalu Soraya adalah karena aku memiliki masa laluku sendiri. Aku tahu segalanya tentang penyesalan.”

10 thoughts on “(Book Review) The Kite Runner by Khaled Hosseini

    1. Hai kak,
      Aku belum baca bukunya, tapi udah nonton film nya. Bener, siapin tisue yang banyak.
      Note banget bahwa kita gak bisa begitu saja mengubur masa lalu…..

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s