book

(Book Review) All The Bright Places by Jennifer Niven

Mungkin yang suka nonton film-film Netflix sudah nggak asing ya mendengar judul ini. Karena bukunya memang sudah diangkat menjadi film di tahun ini dengan judul yang sama. Aku sendiri sebenarnya belum nonton filmnya, cuma sekadar tahu aja. XD Jadi kali ini aku hanya ingin membahas mengenai bukunya yang baru selesai aku baca beberapa waktu yang lalu.

All The Bright Places merupakan novel fiksi remaja yang ditulis dengan menggunakan dua POV atau sudut pandang, yaitu melalui karakter Finch dan Violet. Theodore Finch merupakan seorang anak laki-laki yang terobsesi pada kematian dan telah mencoba beberapa cara untuk mengakhiri hidupnya. Ia seringkali merasa hampa dan kesepian yang disebabkan oleh kondisi keluarganya yang kurang harmonis, Ia jarang sekali mendapatkan kasih sayang, terutama setelah kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya memutuskan untuk menikah lagi dan hidup bersama dengan keluarga barunya.

Kehidupan sekolahnya pun nggak berbeda jauh dengan kondisi keluarganya. Meskipun ia memiliki kedua sahabat yang cukup akrab dengannya, yaitu Charlie dan Brenda, namun anak-anak lain di sekolah nggak menyukainya dan seringkali mengganggunya, bahkan menjulukinya sebagai ‘Theodore si Aneh’. Meskipun ia telah mengikuti sesi konseling beberapa kali bersama dengan Mr. Embry, namun itu nggak banyak membantu dalam mengurangi keinginannya untuk melakukan bunuh diri.

Violet Markey merupakan seorang gadis yang larut dalam kesedihan mendalam setelah kematian kakak perempuannya, Eleanor Markey, yang disebabkan karena kecelakaan mobil saat mereka sedang berkendara. Sedangkan Violet yang juga berada di mobil yang sama pada saat itu hanya mengalami cedera ringan. Kecelakaan tersebut kemudian membuatnya trauma dan berhenti mengemudi mobil.

Nggak hanya berhenti menyetir, Violet juga merasa hidupnya berhenti sejak kejadian itu dan membuatnya kesulitan untuk kembali menulis. Sebelumnya, bersama kakaknya, ia mengelola situs web dan menulis majalah online dengan domain EleanorandViolet.com yang membahas mengenai dua sudut pandang yang berbeda tentang mode, kecantikan, cowok, buku dan kehidupan. Kini situs web itu telah terbengkalai hingga domainnya kadaluwarsa.

Finch dan Violet nggak sengaja bertemu di menara lonceng sekolah, saat Finch tengah mencoba salah satu cara bunuh diri dengan melompat dari ketinggian dan Violet yang entah mengapa juga terdorong untuk pergi ke sana−yang dicurigai Finch berniat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya.

Sejak saat itu, Finch mencari tahu lebih banyak mengenai Violet dan merasa harus menjaganya. Mereka kemudian semakin dekat setelah menjadi satu tim untuk tugas kelas Geografi Amerika yang diberikan oleh Mr. Black. Tetapi, seiring meluasnya dunia Violet, dunia Finch ternyata justru mulai menyusut.

Kalau baca sinopsisnya rasanya suram banget ya, karena ngebahas tentang bunuh diri. Tapi memang itu trigger warning keras yang perlu diperhatiin sebelum memutuskan untuk mulai baca buku ini. Aku sendiri pernah ada di mood yang lagi down dan tetap memaksakan diri untuk terus baca bukunya, and well, I can say it’s not a good thing, apalagi kalo lagi baca di POV-nya Finch.

So please, baca bukunya kalau lagi ada di mood yang baik aja, ya. ^^

Sisi baiknya, buku ini bikin kita lebih aware mengenai kondisi kesehatan mental dan suicidal thoughts (pikiran tentang bunuh diri). Setelah baca buku ini, aku juga jadi lebih yakin kenapa kita harus berusaha berbuat baik sama semua orang dan lebih berhati-hati dalam bercanda, karena kita nggak pernah tahu apa yang orang lain lalui dalam hidupnya dan bagaimana lelucon kita mungkin juga bisa menyakiti hati orang lain.

Selain membahas mengenai hal-hal yang aku sebutin di atas, seperti buku fiksi romantis remaja lainnya, buku ini juga menyuguhkan kisah manis dan lucu antara Finch dan Violet yang bikin gemes dan heartwarming bacanya. ≥__≤

Overall, aku suka sama bukunya dan dapet banget sama pesan yang ingin disampaikan oleh penulis mengenai ‘label’ dan stigma masyarakat mengenai bunuh diri serta penyakit kejiwaan.

“Aku berjuang agar tetap di sini, di dunia brengsek dan kacau ini.”

3 thoughts on “(Book Review) All The Bright Places by Jennifer Niven

  1. Aku pertama kali tau malah dari filmnya, karena muncul di iklan Netflix. Terus jadi rame juga pembicaraan di twitter. Salah satu alasan belom baca buku ini karena katanya bahaya banget bukunya karena kelam, takut2 malah jadi hal-hal tak diinginkan. Penasaran banget sebenarnya tapi pas baca review ini jadi yakin, harus siap mental dulu deh baru baca buku yang gini.

    Like

    1. Iyaa emang agak ngeri sih kalo apa yang ada di bukunya sampe dicontoh atau jadi encourage orang buat bunuh diri, padahal bukan itu point yang pengen disampaiin sama penulisnya. Yang penting jangan baca bukunya atau nonton filmnya pas mood lagi jelek atau lagi down aja, insya Allah nggak bakal kenapa-napa

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s