book

(Book Review) How to Die by Seneca

Bagi yang udah baca buku Filosofi Teras pasti udah nggak asing saat mendengar nama Seneca. Ia merupakan seorang politukus dan juga salah satu filsuf Stoa (Stoisisme) yang beberapa kali kerap disebutkan dalam buku yang ditulis oleh Henry Manampiring tersebut.

Seneca telah menjadi senator muda pada akhir tahun 30-an dan bekerja dalam keluarga kekaisaran Roma sebagai pembimbing Nero muda−Kaisar Romawi pada saat itu. Namun pada tahun 65 M, ia dituduh bersekongkol dalam percobaan pembunuhan yang gagal, dan dipaksa untuk menghabisi nyawanya sendiri.

Dalam buku How to Die ini, berisi kumpulan kutipan dari surat yang ditulis oleh Seneca untuk orang-orang terdekatnya mengenai pentingnya menerima kematian, bahkan termasuk mengakhiri hidup sendiri. Kaum Stoa mengajarkan kepada para pengikutnya untuk mencari kerajaan dalam diri sendiri, kerajaan akalbudi, tempat kesetiaan pada kebenaran dan pemahaman tentang alam mampu mendatangkan kebahagiaan.

Untuk lebih mudah memahaminya, menurut ajaran Stoa, yang kemudian diberikan penekanan baru oleh Seneca pada doktrin-doktrin yang berkaitan dengan berbagai bentuk kematian, khususnya bunuh diri; kebebasan berada di dalam diri kita, yaitu pada nalar kita.

Mungkin karena pada saat itu banyak orang yang menjadi budak yang tertindas, menjadi orang buangan yang melarat dan bahkan menjadi tawanan yang  tersiksa, Stoa mengajarkan kalau mereka tetap bisa merdeka dan berbahagia selama mereka memiliki nalar. Namun apabila seandainya kebebasan kita dihancurkan atau kesehatan kita terenggut, sehingga tindakan kita nggak bisa sesuai dengan nalar, kematian mungkin menjadi pilihan yang lebih baik daripada terus hidup.

Meskipun aku kurang setuju bagaimana Seneca memaklumi tindakan bunuh diri sebagai salah satu cara bagi seseorang untuk meraih kebebasan−karena hal ini nggak sesuai dengan keyakinan yang aku percaya, namun dari buku ini aku belajar alangkah lebih baiknya jika kita menjalani hidup dengan sebaik-baiknya, dibandingkan dengan terus-menerus berharap supaya memiliki umur yang panjang. Seperti yang ditulis oleh Seneca dalam suratnya untuk Lucilius−sahabat dekatnya,

“Sama seperti menceritakan suatu kisah, begitu juga kehidupan: yang penting adalah seberapa baik hal itu dilakukan, bukan seberapa lama.”

Halaman 80

“Sekadar hidup itu sendiri tidak baik, semestinya hidup dengan baik.”

Halaman 98

Aku nggak merekomendasikan untuk baca buku ini di saat kondisi mental sedang down (trigger warning suicide!!), tapi menurutku buku ini tetap asik buat dibaca sebagai perenungan dan pengetahuan baru untuk menjalani hidup dengan sebaik-baiknya dan mengetahui kalau kebahagiaan kita seutuhnya berada dalam nalar atau pikiran kita (nggak bergantung oleh orang lain).

“Mati merupakan salah satu bagian dalam hidup yang paling penting, dan satu-satunya bagian yang tidak bisa dipelajari atau diasah melalui pengulangan. Karena kita hanya akan mati satu kali, dan mungkin saja tanpa peringatan, penting sekali bagi kita untuk mempersiapkan diri jauh-jauh hari dan selalu siaga setiap saat.”

5 thoughts on “(Book Review) How to Die by Seneca

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s