book

(Book Review) Berani Tidak Disukai (The Courage to be Disliked) by Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

Aku senang banget akhirnya bisa membagikan pengalamanku selama membaca buku Berani Tidak Disukai (The Courage to be Disliked). Meskipun tahun 2020 belum sepenuhnya berakhir, tapi aku cukup yakin kalau buku ini akan menjadi buku terbaik yang aku baca di tahun ini. It was an eye-opening book for me.

Buku ini berisikan penjelasan mengenai pandangan hidup berdasarkan teori psikologi Alfred Adler−seorang psikolog, dokter dan terapis. Teori psikologi ini juga dapat disebut sebagai aliran psikologi individual, yang dijabarkan melalui percakapan antara seorang pemuda dan filsuf. Kalau kalian pernah baca buku I Want to Die but I Want to Eat Tteopokki, nah model percakapannya sama seperti yang ada di dalam buku itu.

Sang pemuda yang merasa nggak puas akan hidupnya, memutuskan untuk mengunjungi seorang filsuf yang mengajarkan bahwa dunia ini sederhana dan bahwa kebahagiaan dapat diraih dalam sekejap mata oleh setiap manusia. Pemuda ini bertekad untuk menaklukkan sang filsuf dan berusaha membuatnya mengakui kalau hidup nggak sesederhana itu. Maka diskusi itu pun dimulai.

Aku suka banget sama penyampaian bukunya yang ditulis berupa diskusi antara dua orang tersebut dan pembahasannya yang dipotong dalam bab-bab kecil sehingga nyaman untuk dibaca dan mudah untuk ditelaah. Menurut pendapatku, pemuda di buku ini menggambarkan kita−para pembaca dan sang filsuf menggambarkan Alfred Adler yang sedang menyampaikan teori psikologinya.

Di awal membaca buku ini, aku sudah dibuat shock dengan statement sang filsuf yang mengatakan, “Trauma itu tidak ada.” Aku cuma bisa cengo bacanya sambil bertanya-tanya, kok bisa nggak ada?

Buatku ini merupakan hal yang nggak masuk akal. Selama ini aku percaya kalau karakteristik dan perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh masa lalunya, dan tentunya aku meyakini kalau trauma itu jelas ada. Meskipun masih nggak terima dengan pernyataan tersebut, aku tetap melanjutkan membaca bukunya dan kembali dibuat nggak habis pikir dengan pernyataan-pernyataan lain yang disampaikan oleh sang filsuf.

Pada awalnya aku sangat nggak setuju dengan apa yang dikatakan oleh sang filsuf−sama seperti pemuda yang ada di dalam buku ini. Menurutku apa yang ia sampaikan hanya sekadar teori yang nggak mungkin diimplementasikan dalam kehidupan nyata. Karena mendadak jadi sebel sama bukunya, aku sempat berhenti baca buku ini selama beberapa hari.

Namun, nggak bisa dipungkiri kalau sebenarnya aku juga penasaran. ‘Kok bisa ya dia berpikiran kayak gitu?’ Apalagi kalau ingat buku ini merupakan buku best seller, aku jadi makin penasaran kenapa bisa banyak orang menyukai buku ini.

Dengan berusaha bersikap netral dan berpikiran terbuka dalam mencerna penjelasan yang disampaikan di dalam buku, setelah beberapa hari, akhirnya aku kembali melanjutkan untuk membaca bukunya. Dan satu hal yang kemudian aku sadari, bahwa apa yang disampaikan dalam buku ini sebenarnya bisa untuk dilakukan, meskipun nggak mudah, tapi sebenarnya bisa kalau kita memang berusaha untuk mengaplikasikannya.

Setelah membaca buku ini, aku jadi tahu kalau pola pikirku selama ini biasa disebut dengan aetiologi (studi tentang hubungan sebab dan akibat). Aku cenderung berpikir kalau karakteristik dan perilaku seseorang saat ini dipengaruhi oleh masa lalunya. Sedangkan sebaliknya, teori psikologi Adler dalam buku ini nggak mengenal aetiologi, namun cenderung melihat hal secara teleologi (ilmu yang mempelajari tujuan dari suatu fenomena tertentu, ketimbang penyebabnya).

Menurut teleologi, masa lalu nggak mendefenisikan diri kita saat ini, dan kita selalu memiliki kesempatan untuk menjadi seseorang yang kita inginkan, nggak peduli bagaimanapun masa lalu kita dahulu. Ini merupakan pengetahuan baru buatku dan banyak mengubah sudut pandang yang aku gunakan selama ini.

Nggak hanya mengenai teleologi, dari buku ini aku juga belajar tentang pembagian tugas dalam hubungan interpersonal, baik dalam hubungan keluarga, hubungan pekerjaan, pertemanan maupun hubungan asmara. Pembagian tugas yang dimaksudkan dalam buku ini digambarkan sebagai tugas yang perlu dilakukan oleh tiap-tiap individu dalam hidupnya, dan seharusnya kita nggak saling mengintervensi tugas satu sama lain.

Selain itu, hal penting yang juga disampaikan dalam buku ini yaitu bagaimana seharusnya kita menganggap seluruh umat manusia sebagai teman seperjuangan dan melihat semua hubungan interpersonal sebagai sebuah hubungan yang vertikal, bukannya sebagai hubungan horizontal yang nantinya akan memungkinkan kita memiliki perasaan lebih tinggi atau lebih rendah dibandingkan dengan orang lain.

Selama menulis review ini, aku juga lagi baca buku Filosofi Teras dan aku bisa bilang kalau kedua buku ini memiliki konsep yang kurang lebih sama, hanya berbeda pada beberapa istilah saja. Jadi mungkin bagi kalian yang sudah membaca buku Filosofi Teras akan lebih mudah untuk memahami isi dan penjelasan yang disampaikan dalam buku ini.

Sebagai buku paling favoritku di tahun ini, aku sangat sangat merekomendasikan untuk baca buku ini dan berharap buku ini bisa membuka mata lebih banyak orang dalam memandang dan menjalani hidup ini menjadi lebih sederhana. : )

“Tak peduli apa pun yang telah terjadi dalam hidupmu sampai ke titik ini, itu seharusnya tidak ada hubungannya dengan caramu hidup mulai saat ini.”

“Kalau aku berubah, dunia  ini akan berubah. Tidak ada orang lain yang bisa mengubah dunia ini untukku.”

11 thoughts on “(Book Review) Berani Tidak Disukai (The Courage to be Disliked) by Ichiro Kishimi & Fumitake Koga

  1. Fiгst off I want to say wonderful blog!
    I had a quick qhestion inn which I’d like toߋ ask if you don’t mind.
    І was cuгious to find out how you center yourself аnd clear your thoughtts before
    writing. I’ѵе had trrօuble clearіng my
    thoughts iin getting my ideas out there. I doo twke pleasure in writing but it just seems
    like the first 10 to 15 minutes are generally wasted simply
    jut trying to figure oսt how to begin. Any suggestions or hints?
    Thanks! Please visit us if youu love Fu Fish Online Ꮃin Big Bonus Coin365thb CASINO ONLINE
    BACCARAT DRAGONTIGER ЅICBO ᏒOULETTE SLOThttps://coin365thb.com/th

    Like

  2. Agak berat juga ya bukunya. Tapi buku ini bukan ditulis oleh Psikolognya langsung ya? Apakah bahasanya berat kak? Aku lagi baca I want to die but i want to eat tteokpeokki tapi lagi terhenti 😅

    Terima kasih buat ulasannya ya!! 👍🏻👌

    Like

    1. Iyaa, yang nulis bukan psikolognya langsung. Penulisnya terkesan sama teori psikologi Adler dan nulis bukunya biar makin banyak yang tahu tentang pemikiran Adler ini.
      Menurutku bahasanya lumayan berat, mungkin bakal lebih mudah mahamin isi bukunya kalo udah pernah baca filosofi teras, karena konsepnya cukup mirip tapi kalo filosofi teras bahasanya lebih ringan.

      Makasih juga udah mampir dan nyempetin baca❣

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s